Kirim laporan kegiatan PDP di daerah Anda melalui email: redaksi@pdp.or.id atau redaksipdp@yahoo.com >
Demi Keadilan dan Demokrasi, Ambang Batas Parlemen 0% dengan Hak Membentuk Fraksi Lebih Ketat PDP memandang lebih tepat ambang batas parlemen 0%, namun dalam penyusunan fraksi diterapkan prosentase lebih tinggi sekitar 10-15%. Hal ini untuk menjamin hak politik setiap warga negara yang sudah memilih, agar tidak lagi terjadi pemberangusan ribuan suara atau aspirasi rakyat seperti dalam pemilu 2009. Juga maksud untuk efesiensi tercapai dengan tidak mengorbankan suara sah yang sudah masuk.
PDP memandang lebih tepat ambang batas parlemen 0%, namun dalam penyusunan fraksi diterapkan prosentase lebih tinggi sekitar 10-15%. Hal ini untuk menjamin hak politik setiap warga negara yang sudah memilih, agar tidak lagi terjadi pemberangusan ribuan suara atau aspirasi rakyat seperti dalam pemilu 2009. Juga maksud untuk efesiensi tercapai dengan tidak mengorbankan suara sah yang sudah masuk.
Arsip Profil
Usai Pemilu legislatif, penyakit yang menyebabkan PDP anjlog mulai terkuak . Apa langkah selanjutnya?
Arsip Polling
Iklan Politik di Televisi Gagal Sajikan Kredibilitas Figur di Hadapan Pemirsa, Mengapa? Senin, 20 Oktober 2008 14:29:35
Jakarta, (PDP). Jangan pernah percaya dengan penampilan figur politik yang iklan di televisi karena boleh jadi apa yang diiklankan itu merupakan topeng semata untuk menampilkan citra positif kemudian seakan-akan menguburkan dosa masa lalu. Setidaknya itulah yang disampaikan Al Ries dan Laura Ries (2002) melalui karyanya yang menyentak kalangan periklanan, The Fall of Advertising and the Rise of PR.
Mereka menyebutkan era periklanan tengah berakhir. Iklan gagal menyajikan kredibilitas di hadapan pemirsa dan meningkatkan penjualan produk. Ries dan Ries sendiri bukan antiperiklanan.Malah keduanya meletakkan periklanan sebagai kelanjutan public relations (PR)-PR-lah yang membentuk merek (citra), yang selanjutnya diperteguh iklan. Jadi, memercayai iklan untuk meyakinkan pemirsa akan kredibilitas isi tayangannya menjadi pekerjaan sia-sia.
“Oleh karena itu saya berpendapat figur yang mengiklankan diri di televisi pada saat pemilu nanti akan sia-sia mendapat dukungan pemilih karena terlalu banyak dosa masa lalu mereka yang disembunyikan,”tegas Calon Legislatif DPRD Provinsi DKI Jakarta M Rafik saat dihubungi PDP Online hari ini.
Menurut Rafik, para tokoh politik yang sekarang ini lagi mejeng di layar kaca televisi berusaha memutuskan diri dari situasi yang dipandang masa lalu. Mereka secara eksplisit dan dramatis malah mendiametralkan masalah seolah-olah menjadi simbol harapan. Sedangkan pemerintahan masa lalu adalah simbol keterpurukan.
Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) sejak awal berdiri tetap mengutamakan penguatan kepengurusan mulai dari nasional hingga kecamatan bahkan saat ini pun pembentukan pengurus di setiap desa. Begitu pentingkah mesin politik?
“Ini yang dilupakan partai politik lain. Sehingga tidak heran di setiap tingkatan terutama pengurus di bawah kegiatan kepartaian tidak berjalan bahkan stagnan. Karena elite partai lebih senang menghamburkan uang untuk membayar iklan ketimbang membentuk pengurus di bawah,”imbuhnya.
Klaim-klaim positif yang disajikan melalui iklan bukannya meneguhkan pilihan rakyat, tetapi membalikkan persepsi yang dikehendaki. Citra yang dibangun di media pada akhirnya mampu ditangkap sebagai representasi fakta yang bertujuan untuk menguntungkan kandidat. Di sini berlaku penegasian apa yang disajikan positif dipersepsi dan disimpulkan negatif. (ga)
« Kembali ke arsip Berita
Komentar:
© 2006, Partai Demokrasi Pembaruan. Powered by TRANSFORMATIKA